Pulsa GweOne

Beli pulsa, Bayar PPOB, Tiket Pesawat dan Kereta Api bisa online! kapan dan dimana saja

6.06.2017

Waspadalah, MUI Men-Fatwa Haramkan Ghibah di Medsos

Hey Gwener's, What's Up!
Media sosial sudah menjadi bentuk komunikasi antar warganet. Semua orang bisa mendapatkan informasi mengenai apa saja, Namun hal ini justru bisa dimanfaatkan oleh orang untuk berbuat kejahatan hingga memberikan informasi palsu. Seperti marak saat ini sedang beredar, setiap informasi yang dimuat di media sosial sangat cepat sekali menyebar dan tidak bisa dipungkiri informasi tersebut dapat juga disalah artikan bagi orang lain.
Atas dasar tersebut, kini Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan Fatwa tentang berbagi atau memberikan informasi melalui sosial media. Sehingga tidak sembarang orang untuk menulis atau menyalurkan pikiran mereka tanpa memperhatikan sebab akibatnya.
Fatwa MUI Soal Bermuamalah

Apa itu Ghibah

Ghibah adalah penyampaian informasi faktual tentang seseorang atau kelompok yang tidak disukainya. Bahasa universalnya, ghibah sama dengan gunjing. Tanpa sadar dan tak sadar, sikap itu sering kita lakukan sehari-hari.

Fatwa MUI tentang Ghibah

Dalam fatwa MUI soal medsos ini memutuskan bahwa setiap umat muslim yang bermuamalah (bersosialisasi) antar individu atau kelompok melalui medsos dilarang untuk melakukan ghibah, fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhsan di ranah publik seperti Twitter, Facebook, dan lainnya.
Dijelaskan secara tegas ketentuan hukumnya bagi yang melakuka ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusahan, khususnya di medsos.
  1. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.
  2. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.
  3. Mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang lain atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkan secara syar'i.
  4. Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya haram.
  5. Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram.
  6. Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.

No comments :

Post a Comment